Saat Nabi Muhammad SAW. Hampir Wafat

Posted: February 16, 2011 in Agama

Terdapat  sebuah kisah tentang cinta yang sebenar-benar cinta yang dicontohkan  Allah melalui kehidupan RasulNya. Pagi itu, walaupun langit telah mulai  menguning, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap. Ketika itulah,  Rasulullah dengan suara terbatas memberikan kutbah:

“Wahai umatku, kita semua berada dalam kekuasaan Allah dan  cinta kasihNya. Maka taati dan bertakwalah kepadaNya. Ku wariskan dua  perkara pada kalian, al-Qur’an dan sunnahku. Barang siapa mencintai  sunnahku, bererti mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku,  akan masuk syurga bersama-samaku.”

Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata  Rasulullah saw. yang tenang dan penuh minat menatap sahabat-sahabatnya satu persatu.  Abu Bakar menatap baginda dengan mata yang berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun  menahan nafas dan tangisnya. Usman menghela nafas panjang dan Ali  menundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya  sudah tiba.

“Rasulullah saw. akan meninggalkan kita semua,”keluh hati semua sahabat kala itu.

Manusia  tercinta itu, hampir selesai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda  itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan cergas menangkap  Rasulullah saw. yang berkeadaan lemah dan goyah ketika turun dari mimbar.  Disaat itu, kalau mampu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan  menahan detik-detik berlalu.

Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah Rasulullah saw. masih  tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan  keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas  tidurnya.

Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru  mengucapkan salam. “Bolehkah saya masuk?” tanyanya. Tetapi Fatimah tidak  mengizinkannya masuk, “Maafkanlah, ayahku sedang demam,” kata Fatimah  yang membalikkan badan dan menutup pintu.

Kemudian dia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah  membuka mata dan bertanya pada Fatimah, “Siapakah itu wahai anakku?”  “Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,”  tutur Fatimah lembut.

Lalu, Rasulullah saw. menatap puterinya itu dengan pandangan  yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu  hendak dikenang.

“Ketahuilah anakku, dialah yang menghapuskan  kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah  malaikat maut,” kata Rasulullah saw..

Fatimah menahan ledakan tangisnya. Malaikat maut  datang menghampiri Rasulullah lalu Baginda menanyakan kenapa Jibril tidak ikut  sama menyertainya. Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah  bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu  dunia ini.

“Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?” Tanya Rasulullah dengan suara yang amat lemah.

“Pintu-pintu  langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua syurga  terbuka lebar menanti kedatanganmu,” kata Jibril. Tapi itu ternyata  tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.

“Engkau tidak senang mendengar khabar ini?” Tanya Jibril lagi.

“Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?”

“Jangan  khuatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman  kepadaku: ‘Ku haramkan syurga bagi sesiapa saja, kecuali umat Muhammad  telah berada di dalamnya,” kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan  tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah  bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang.

“Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini.” Perlahan Rasulullah mengaduh.  Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan  Jibril memalingkan muka.

“Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?” Tanya Rasulullah pada Malaikat penghantar wahyu itu.

“Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal,” kata Jibril.

Sebentar  kemudian terdengar Rasulullah memekik, kerana sakit yang tidak  tertahan lagi. “Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua  siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku.

Badan Rasulullah mulai  dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar  seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya.  “Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku, peliharalah shalat dan  peliharalah orang-orang lemah di antaramu.”

Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat  saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali  kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.

“Ummatii, ummatii, ummatiii?” – “Umatku, umatku, umatku”

Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai dirinya sebagaimana Baginda mencintai kita?

Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa baarik wa salim ‘alaihi

Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.

Semoga kita hargai segala pengorban Rasulullah SAW

 

Sumber: iluvislam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s